jump to navigation

MATERIALITAS DAN RESIKO Saturday, November 8, 2008

Posted by F_Ribery in auditing.
trackback

Materialitas adalah besarnya nilai penghapusan atau kesalahan penyajian informal keuangan yg dalam hubungannya dgn sejumlah situasi yg melingkupinya, membuat hal itu memiliki kemungkinan besar bahwa pertimbangan yg dibuat oleh seseorang yg mengandalkan informasi tsb akan berubah atau terpengaruh oleh penghapusan atau kesalahan penyajian tsb.

Tahap2 dalam penerapan Materialitas:

1.      Menetapkan pertimbangan awal tentang tingkat materialitas

2.      mengalokasikan pertimbangan awal tentang tingkat materialitas ini kedalam segmen2 (tahap 1&2 = perencanaan tentang rentang audit)

3.      mengestimasikan total kesalahan penyajian yg terdapat dalam segmen

4.      megestimasikan kesalahan penyajian gabungan

5.      membandingkan antara estimasi gabungan dan pertimbangan awal atau pertimbangan yg telah direvisi tentang tingkat materialitas.(Tahap3-5 = evaluasi hasil)

Pertimbangan awal tentang materialitas selanjutnya merupakan nilai maksimum yg diyakini auditor merupakan kandungan kesalahan penyajian yg mungkin masih terdapat dalam laporan keuangan dan tetap tidak mempengaruhi keputusan2 yg diambil oleh para pengguna laporan keuangan.

Berbagai factor yg mempengaruhi pertimbangan:

1.      materialitas lebih merupakan konsep yg relative bukannya absolute

2.      Sejumlah dasar pertimbangan diperlukan untuk mengevaluasi tingkat materialitas

3.      faktor2 kualitatif pun mempengaruhi tingkat materialitas. Contoh: nilai2 yg melibatkan kecurangan seringkali dianggap lebh penting drpd sejumlah nilai yg sama tetapi yg diakibatkan oleh kekeliruan yg tidak disengaja karena perbuatan kecurangan tsb merefleksikan kejujuran serta realibilitas manajemen atau karyawan lain yg terlibat.

Kesulitan dalam upaya mengalokasikan tingkat materialitas ke akun2 neraca (segmen2):

1.      Auditor memiliki ekspektasi bahwa sejumlah akun tertentu mengandung lebih banyak salah saji daripada akun2 lainnya,

2.       baik salah saji lebih (overstatemen) maupun salah saji kurang(undersatatemen)

 harus tetap dipertimbagkan

3.      Biaya2 audit secara relevan mempengaruhi pengalokasian ini

Jenis2 resiko:

1.      Planned detection Risk (resiko deteksi terencana) : merupakan ukuran bawha bukti audit ats segmen tertentu akan gagal mendeteksi  kebradaan salah saji yg melebihi suatu nilai salah swaji yg masih dapat ditoleransi, andaikan salah saji semacam itu ada

2.      Resiko inheren (inherent risk): merupakan suatu ukuran yg dipergunakan oleh auditor dalam menilai adanya kemungkinan bahwa terdapat sejumlah salah saji yg material (kekekliruan atau kecurangan) dalam suatu segmen sebelum ia mempertimbangakan keefektifan dari pengendalian intern yg ada.

3.      Resiko pengendalian (control risk) : merupakan ukuran yg dipergunakan oleh auditor untuk menilai adanya kemungkinan bahwa terdapat sejumlah salah saji material yg melebihi nilai salah saji yg masih dapat ditoleransi atas segmen ttu akan tidak terhadang atau tidak terdeteksi oleh pengendalian intern yg dimiliki klien. Resiko pengendalian memperlihatkan : (1) penilaian tentang apakah penegndalian intern yg dimiliki klien efektif untuk mencegah atau mendeteksi terjadinya salah saji (2) kehendak auditor membuat penilaian tsb senantiasa berada dibawah nilai maksimum (100 persen) sebagai baian dari rencana audit yg dibuatnya.

4.      resiko akseptibilitas audit (acceptable audit risk) : merupakan ukuran atas tingkat kesedianan auditor untuk menerima kenyataan bahwa lap keuangan mungkin maish mengandung salah saji yg materian setelah audit selesai dilaksanakan serta suatu laporan audit wajar tanpa syarat telah diterbitkan.

Faktor2 yg mempengaruhi resiko akseptibilitas audit:

1.      Derajat kebergantungan para pengguna eksternal pada  laporan keuangan. Indikatornya: ukuran usaha klien, distribusi kepemilikan, sifat dan nilai kewajiban

2.      kemungkinan bawha klien akan mengalami kesulitan keuangan setelah penerbitan laporan keuangan audit.indikatornya :posisi likuiditas,laba(rugi) pd tahun sebelum2nya, metode pembiayaan pertumbuhan, sifat operasi klien, kompetensi manajeman

3.      .evaluasi auditor atas integritas manajemen

Metode2 yg digunakan:

Factor no 1 (derajat dst) :

1.      menelaah lap keu, termasuk catatan atas laporankeuangan

2.      membaca notulen rapat dewan direksi untuk menentukan berbagai rencana masa depan

3.      menelaah formulir 1o K bagi sebuah perusahaan public

4.      membahas rencana2 keuangan dgn pihak manajemen

factor 2:

1.      melakukan analisa atas laporan keuangan untuk menilai gejala kesulitan keuangan dgn mempergunakan sejumlah ratio serta berbagai prosedur analitis lainnya

2.      menelaah lap arus kas masuk dan keluar

factor 3 : mengikuti sejumlah prosedur

Faktor2 yg mempengaruhi resiko inheren :

         sifat bisnis klien

         temuan audit yg diperoleh dari audit2 sebelumnya

         penugasan awal versus penugasan ulangan

         pihak2 terkait

         berbagi transaksi non rutin

         pertimbangan yg diperlukan untuk mengkoreksi pencatatan berbagai saldo dan transaksi akun

         penyusunan populasi

menilai resiko kecurangan : 3 kondisi  pd umumnya hadir pd saat salah saji material yg disebabkan oleh kecurangan itu terjadi:

1.      Insentif/tekanan. Manajemen atau karyawan lain memiliki insentif atau tekanan untuk melakukan kecurangan

2.      Kesempatan. Keadaan memberikan kesempatan untuk manajeman atau karyawan untuk melakukan kecurangan

3.      perilaku/ rasionalisasi

Merespon resiko kecurangan:

1.      merancang dan emlakukan prosedur audit untuk mengarah kepada resiko kecurangan yg teridentifikasi

2.      Menubah keseluruhan perilaku dari audit untuk merespon resiko kecurangan yg teridentifikasi

3.      melakukan prosedur untuk mengarahkan resiko menejemen menguasai kontrol

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Comments»

1. marcel - Monday, March 9, 2009

Selamat pagi Pak, saya Marcellina, mahasiswi yang sedang mangadakan penelitian untuk tugas akhir mengenai pendeteksian kecurangan yang dilakukan oleh eksternal auditor. saya mau bertanya, apakah yang menjadi indikator variabel deteksi kecurangan?terima kasih atas jawabannya Pak..

2. Marlia Diah M - Thursday, May 7, 2009

Apa saja indikator2 materialitas agar bisa diketahui apakah ada hubungan/pengaruh antara profesionalisme auditor dengan tingkat materialitas sebuah laporan keuangan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: